Skip to main content

Ikut Vaksin Covid-19 di Puskesmas

Ilustrasi Vaksin Covid-19. Sumber Pixabay

Hampir 2 tahun pandemi covid-19 beralangsung. Sekarang vaksin sudah sampai didekat kita yang diiringi dengan berita baik dan berita buruk. Sempat saya enggan untuk ikut vaksin karena takut. Satu, dua, tiga kali kesempatan saya lewatkan ketika undangan vaskin diinfokan melalui Kepala Dusun. Di grup whatsapp dusun saya, Kepala Dusun tak henti-henti memberi tahu siapa yang ingin ikut vaksin kuota masih ada. Tapi saya hanya diam, saya lihat ada beberapa orang yang merespon dan mau ikut vaksin. Pada satu kesempatan ada yang baru saja selesai vaksin dan menginfokan bahwa sangat longgar, masih sekitar pukul 10 pagi, masih bisa langsung datang kesana katanya. Tapi saya tetap tak menghiraukannya.

Batal Vaksin

Entah apa yang membuat aku mau vaksin, mungkin karena takut persayaratan administratif yang dikabarkan itu lebih besar dari takutku terhadap jarum suntik. Tiba di suatu Senin di bulan Juni saya berangkat vaksin. Satu hari sebelumnya saya mendapatkan info bahwa vaksin bisa langsung datang seusai jadwal desa sekecamatan di puskesmas. Vaksin tidak lagi harus daftar melalui Kepala Dusun dan disetor data ke pihak desa.

Sial. Meski saya tidak datang sesuai jadwal desa saya yang tampak di sana seperti lautan manusia. Saya berangkat sendirian karena orang-orang di sekitar saya belum banyak yang ingin divaksin. Sempat saya curhatkan kepada salah satu saudara bahwa keadaannya seperti itu. Untung sebelum berangkat saya membeli paket data Smarfren Gokil Max takut kalau-kalau ada yang dikabarkan atau mengabarkan. 

MySmartfren Challange dan Smartfren Rejeki Wow 2

Paket data Smartfren Gokil Max memiliki tiga pilihan dengan masa aktif yang sama, 30 hari. Termurah 9GB, Rp30.000, menengah 21 GB, Rp50.000 dan Rp70.000 dapat 36 GB yang paling banyak kuotanya. Paket ini dapat digunakan selama 24 jam Selain bebas akses internet 24 jam, bisa nelpon sepuasanya sesama Smartfren dan ada +extra kuota hingga 70 GB (pukul 01.00 – 05.00 WIB).

Oh ya, membeli paket data Smarfren bisa dilakukan menggunakan aplikasi MySmartfren. Selain bisa dengan mudah membeli paket sesuai dengan yang kita inginkan. Cukup mengunduh aplikasi MySmarfren kita bisa ikutan Rejeki WOW periode 2 dan yang lebih seru lagi modal download aplikasi kita bisa mendapatkan kesempatan meraih hadiah REDMI 8 A Pro, MiFi M6X, atau Voucher Data 30GB. Simak caranya pada gambar di bawah ini!

Syarat Ikut MySmartfren Challenge 

Proses Vaksin yang Saya Alami

Sebab keadaan yang seperti itu dan sendirian pula saya memutuskan untuk pulang, kebetulan dalam selang waktu yang tidak lama ada undangan yang harus saya hadiri. Keesokan harinya, 8 Juli saya berangkat berdua dengan saudara yang saya curhati. Melihat keadaan kemarin saya memilih datang agak siang supaya tidak lama menunggu di sana. 

Datang menumpuk fotokopi KTP yang dibubuhi nomor HP yang masih aktif sebagai antrian. Dipanggil untuk cek suhu dan berat badan. Fotokopi KTP tidak diberikan melainkan ditambah selembar form yang terdiri dari beberapa pertanyaan termasuk isian suhu dan berat badan tadi.

Akhirnya mendapat tempat duduk mengantri yang lebih rapi, yang sudah diatur jaraknya sedemikian rupa. Kembali menunggu untuk cross check Nama dan nomor HP lalu kembali duduk. Tidak lama dipanggil lagi untuk mengukur tensi darah, tinggi badan, dan lingkar badan.

Fotokopian KTP dan selembaran form akhirnya diberikan kepada yang bersangkutan. Peserta vaksin sangat dimudahkan -terlebih untuk lansia- dengan prosesnya cukup menjawab pertanyaan wawancara dan petugas akan mengisikan pada formnya. Pada tahap terakhir sebelum disuntik vaksin ada petugas yang menyatakan kita bisa ikut vaksin atau tidak dengan data form tersebut dan jawaban wawancara, seperti ada riwayat sakit dalam dan juga sedang mengkonsumsi obat tertentu atau tidak.

Vaksin Angkatan Astra Zeneca

Tak sekalipun terpikirkan apa nama vaksin yang sedang diberikan pada hari itu. Apakah Astra Zeneca atau Sinovac, yang penting ikut vaksin di Puskesmas. 

Jantung makin dag dig dug menunggu giliran disuntik. Walaupun bukan kali pertama disuntik tetap saja rasa takut itu ada. Hingga tiba nama saya dipanggil, Bidan Desa saya yang sedang bertugas mendengar itu kemudian menghampiri saya yang sudah duduk posisi siap divaksin. Bu Bidan mengajak saja ngobrol. bertanya berangkat dengan siapa. Mengetahui bahwa saya hanya berdua beliau berpesan untuk mengajak teman-teman yang lain dan orang sekitar lingkungan saya. Tidak ada kata lain yang dapat saya katakan selain, "Iya Bu."

Yang dilakukan Bu Bidan itu sangat membantu saya. Rasa takut saya keselimur oleh obrolan, tak terasa jarum suntik sudah selesai dipakai sesuai fungsinya pada lengan saya. Lega. Tinggal 15 menit terakhir menunggu efek yang terjadi pada tubuh setelah divaksin kemudian kartu vaksin diserahkan. Ternyata vaksin yang diberikan pada hari itu adalah Astra Zeneca.

Sertifikat dan Jadwal Vaksin Dosis 2

Link sertifikat dan jadwal vaksin dosis 2 dikabarkan melalui SMS ke nomor yang tertera pada fotokopi KTP. Tetapi saya tidak mendapat SMS. Sempat saya panik bagaimana nantinya. Lalu saya bertanya pada saudara apakah mendapat SMS atau tidak. Dia mendapat SMS, ditangkaplah layar HPnya kemudian dikirimkan ke saya. Tiga bulan kemudian jadwalnya dosis ke 2. Dengan melogikanya tentu jadwal saya sama dengan dia. Kemudian sertifikat vaksin saya mengunduhmya sendiri pada laman pedulilindungi.id.

Tetapi bagi yang tidak mengerti jadwal selanjutnya bisa menunggu info dari Bidan Desa dan Kepala Dusun setempat. Karena info terkini vaksin tidak sesuai dengan jadwal sebab stok vaksin yang tidak menentu. 

Itulah pengalaman saya ikut vaksin covid-19 di Puskesmas Wlingi, Blitar. Sekarang sudah lebih terkoordinir dengan mengantri melalui Kepala Dusun dan berangkat sesuai jadwal yang diberikan. Tidak lagi seperti lautan manusia pada kali pertama undangan vaksin dibebaskan secara umum.

Comments

Popular posts from this blog

Bermalam Minggu di Ranu Kumbolo

Ini adalah tulisan yang sangat terlambat kalau teman-teman di instagram sering sebut latepost. Tapi enggak deng, tidak ada kata terlambat untuk menulis dan ditulis. Pernah lihat film 5 CM? Tampaknya aku korban film itu. Tapi tak serta merta setelah nonton film lalu berangkat ke sana. Film itu tahun 2012 sedangkan aku baru berkesempatan ke Ranu Kumbolo tahun 2015. Cukup lama untuk penanggulangan korban. Ini Candu Tidak punya teman yang suka mendaki, ada sebenarnya tapi tidak ada keinginan untuk mengajak aku. Karena memang bukan teman dekat. Aku hanya berbicara dengan diri sendiri,"Kapan bisa ke Puncak Mahameru ya?!" dalam hati. Akhirnya sekitar bulan Juli aku lupa tanggalnya ada barengan dari satu wilayah. Kenalan dari facebook yang ternyata bekerja di BPBD Blitar, yang kantornya 7 km-an dari rumahku. Masih sekecamatan, kecamatan Wlingi. Namanya Eko, tapi orang dan dia sering memperkenalkan diri sebagai Balor. Aku juga tidak paham apa artinya. Ternyata dia juga ng...

Mau Jadi Apa? Siapkan Diri Raih Peluang Kokreasi bersama Smartfren WOWLabs

Mau jadi apa? Sebuah kalimat tanya pendek yang sering saya ulang-ulang untuk menanyai diri saya sendiri. Mau jadi ini. Mau jadi itu. Banyak mau tapi enggak ada usaha jadi tidak maju-maju, tidak jadi ini juga tidak jadi itu. Era ini semua serba konten. Dari yang bermanfaat hingga untuk hiburan semata. Apalagi di saat pandemi seperti ini, banyak orang yang di rumah saja entah terpaksa atau tidak membuat konten untuk menghilangkan stres. Apapun bisa jadi konten. Smartfren WOWLabs Generasi Konten Saya sendiri ngonten melalui blog ini yang beberapa artikelnya memiliki konten video yang saya unggah di Youtube. Bersinergi antara konten youtube saya dengan blog ini adalah sebuah cara saya dalam membagikan apa pun, yang semoga bisa bermanfaat untuk penonton dan pembaca. Pergerakan saya tampak lambat karena memang satu dan lain hal di dunia nyata atau itu hanya alibi saya atas kemalasan menulis. Tetapi, apa pun itu saya yakin apa yang saya tulis di dalam blog ini juga melalui video di channel yo...

Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu: Rasanya Kaki Mau Patah

View Pos 4 Gunung Lawu - Walaupun bukan pendaki berpengalaman setiap orang yang mendaki gunung disebut pendaki dong ya? Ya meski hanya tiga kali setidaknya sudah ku takhlukkan Puncak Mahameru . Sudah hampir setahun tidak mendaki dengan alasan menjawab pertanyaan, "Sebelum bulan puasa mau kemana?" Yang sebenarnya bisa dijawab dengan singkat," Di rumah saja." Singkat cerita dipilihlah Gunung Lawu dan dengan penuh drama akhirnya jalur Cemoro Sewu yang akan ditempuh bersama.Karena salah satu teman tidak punya banyak hari libur, menurut informasi yang bertebaran di internet jalur Cemoro Sewu-lah yang paling cepat tapi dengan konsekuensi tidak ada bonus, jalan nanjak terus. Di mulai tanggal 25 April pagi berangkat dari terminal Blitar menuju Nganjuk naik bus Kawan Kita, ada bapak-bapak kecopetan, kasihan mau ke Kediri minta uang tambahan ke anaknya untuk memperbaiki motor dompetnya malah raib. Dari Nganjuk niat awal turun Maospati tapi karena sudah malam akhi...