Skip to main content

Bermalam Minggu di Ranu Kumbolo

Ini adalah tulisan yang sangat terlambat kalau teman-teman di instagram sering sebut latepost. Tapi enggak deng, tidak ada kata terlambat untuk menulis dan ditulis. Pernah lihat film 5 CM? Tampaknya aku korban film itu. Tapi tak serta merta setelah nonton film lalu berangkat ke sana. Film itu tahun 2012 sedangkan aku baru berkesempatan ke Ranu Kumbolo tahun 2015. Cukup lama untuk penanggulangan korban.

Ini Candu
Tidak punya teman yang suka mendaki, ada sebenarnya tapi tidak ada keinginan untuk mengajak aku. Karena memang bukan teman dekat. Aku hanya berbicara dengan diri sendiri,"Kapan bisa ke Puncak Mahameru ya?!" dalam hati.

Akhirnya sekitar bulan Juli aku lupa tanggalnya ada barengan dari satu wilayah. Kenalan dari facebook yang ternyata bekerja di BPBD Blitar, yang kantornya 7 km-an dari rumahku. Masih sekecamatan, kecamatan Wlingi. Namanya Eko, tapi orang dan dia sering memperkenalkan diri sebagai Balor. Aku juga tidak paham apa artinya. Ternyata dia juga ngajar PMR di SMAN 1 Garum, Blitar. Eh, entah PMR atau ekstra kulikuler pecinta alam aku lupa.

Berangkat setelah isya', berkumpul di kantor BPBD jumat malam. Aku masih belum tau siapa saja yang ikut, yang aku tahu perempuan dua anak sekalian aku. Sebelum berkumpul mas Balor menyuruh dan menyarankan beberapa barang kebutuhan yang harus dibawa, karena aku belum pernah sama sekali ke gunung meski aku anak gunung (baca: orang desa). Dari beras sampai kaos kaki, dari makanan sampai baju ganti.

Dia menceritakan kalau di Ranu Kumbolo itu dingin, suhu mencapai -5 derajat celcius. Sampai-sampai ia membawa baju ganti tiga. Otakku menerima informasi bahwa harus membawa baju yang tebal kalau tidak mau kedinginan.

Sungguh pengalaman yang tak akan terlupakan, karena aku keberatan beban. Bukan, bukan berat badanku, tapi carier yang ku pinjam dari tetanggaku. Semua serba rangkap tiga. Dari baju sampai jaket. Bisa kamu bayangkan gimana gedenya tas karier kalau bawaanya kayak gitu.

Sudah berkumpul 5 orang, 2 perempuan 3 laki-laki. Dunia itu sempit, perempuan yang satu itu teman sepupuku. Laki-laki yang satu teman dekat temanku, dan dia yang memboncengku. Berangkat sekitar pukul 20.00 WIB dari kantor BPBD Blitar mampir SPBU Pandean menuju Ranupani lewat Tumpang, Malang. Sampai pukul berapa aku kurang jelas mungkin sekitar pukul 00.00 WIB. Setelah parkir, kami mendirikan tenda di lapangan untuk istirahat. Sebelumnya masak dulu, belum makan. Konyolnya lagi, aku bawa gelas bahan kaca. Lupa bawa sendok, sendok sih gak masalah banyak ranting bisa jadi sumpit alami. Ini sejarah untukku.

Keesokan harinya, singkatnya setelah pendaftaran dan briefing pengecekan barang ada yang kurang, sleeping bag waktu itu minimal 5 orang bawa 3. Kami cuma bawa 2, akhirnyan kami nyewa.
Setelah sarapan, kami berangkat. Aku dengan setelan baju biasa ala kadarnya dengan sepatu sepunyanya, sepatu sneakers bekas teman. Menggendong tas karier yang isinya baju selemari sebelum pos 1 sudah tak kuat, sungguh terlalu, terlalu merepotkan.

Akhirnya temannya temanku, Yani membawakan carierku. Kami bertukar tas. Mengingat kejadian ini aku senyum-senyum malu sendiri. Belum sampai Ranu Kumbolo, masih menuju pos 2 sol sepatu kiriku terbuka, rusak. Dan tidak bawa sendal. Ya aku coba ku tali dengan tali rafia yang ku temukan dijalan. Semakin lama semakin parah, pada akhirnya aku buang sekalian solnya. Kalau dilihat masih memakai sepasang sepatu. Tapi rasanya di kaki nyeker sebelah.

Dari pos 3 aku masih memelihara rasa sungkan dan sabar karena ini masih perjalanan berangkat. Jalannya menajak dan berdebu. Walau tak lama tapi apa mau dikata, aku jadi beban mereka.
Sampai di Ranu Kumbolo hampir maghrib, kami mendirikan tenda, mencari air dan memasak. Menu malam itu mie instan, sarden dan nasi. Minumnya nutrisari hangat. Aku sudah bisa tersenyum bercanda lagi, sedikit dapat menyingkirkan sedih dan sungkan.

Ranu Kumbolo Tampak dari Pos 4

Suhu minimum disana -5 sampai -20 derajat celsius. Tapi yang terjadi pada kami adalah gerah. Karena sleeping bag rangkap 3. Asli, baju gantiku banyak yang tak terpakai. Hanya merepotkan teman saja, baru kenal lagi. Duh...

Pagi tiba, waktunya berfoto ria. Sungguh indah sekali danau Ranu Kumbolo dan mata hari terbit. Karya Tuhan yang keren. Tapi aku tak banyak foto, malu.

Saat kebelet BAB atau BAK jangan sedih, ada tempatnya, tidak seperti diperjalanan harus ngumpet di semak-semak. Ya, WC seperti jaman dahulu, adal lubak kotak dan kotoran langsung jatuh. Tidak ada air jadi sebelum masuk WC ambil air dulu dalam botol secukupnya dari danau tak lupa bawa tisu. Sekarang tisu basah tidak diperbolehkan lagi. Dengar-dengar juga WC sudah lebih baik lagi, belum tau sih seperti apa wujudnya.

Pandu-Balor-Aku-Nur-Yani (dari kiri ke kanan)
Tidak berlama lama, setelah sarapan kami pulang. Yani dan  mas Balor yang bekerja di BPBD Blitar masuk kerja jam 6 petang. Sungguh pengalaman pertama mendaki gunung meski tak sampai puncak yang tak terlupakan. Dapat teman baru yang baik hati. Ini sejarah bagiku, pelajaran untuk membawa seperlunya saja. Malam minggu di Ranu Kumbolo yang nano nano rasanya.

Comments

Popular posts from this blog

Mau Jadi Apa? Siapkan Diri Raih Peluang Kokreasi bersama Smartfren WOWLabs

Mau jadi apa? Sebuah kalimat tanya pendek yang sering saya ulang-ulang untuk menanyai diri saya sendiri. Mau jadi ini. Mau jadi itu. Banyak mau tapi enggak ada usaha jadi tidak maju-maju, tidak jadi ini juga tidak jadi itu. Era ini semua serba konten. Dari yang bermanfaat hingga untuk hiburan semata. Apalagi di saat pandemi seperti ini, banyak orang yang di rumah saja entah terpaksa atau tidak membuat konten untuk menghilangkan stres. Apapun bisa jadi konten. Smartfren WOWLabs Generasi Konten Saya sendiri ngonten melalui blog ini yang beberapa artikelnya memiliki konten video yang saya unggah di Youtube. Bersinergi antara konten youtube saya dengan blog ini adalah sebuah cara saya dalam membagikan apa pun, yang semoga bisa bermanfaat untuk penonton dan pembaca. Pergerakan saya tampak lambat karena memang satu dan lain hal di dunia nyata atau itu hanya alibi saya atas kemalasan menulis. Tetapi, apa pun itu saya yakin apa yang saya tulis di dalam blog ini juga melalui video di channel yo...

Pendakian Gunung Butak via Sirah Kencong Blitar

Puncak Gunung Butak Gunung Butak berada pada ketinggian 2868 mdpl bisa didaki melalui 4 jalur, yang terkenal Sirah Kencong, Blitar dan Panderman, Malang. Kata kalangan pendaki, kalau ingin pendakian cepat Sirah Kencong lah yang harus dipilih tentu dengan konsekuensi tidak ada "bonus" (di dunia pendakian bonus adalah istilah untuk trek landai). Benar saja, dada terasa terhimpit sejak tanjakan pertama dekat parkiran Agro Wisata Sirah Kencong . Saya tergolong pendaki pemula dan jarang berolahraga, ya tentang kecepatan waktu pendakian tergantung pada setiap orang.  Simaksi Simaksi pendakian Gunung Butak melalui Sirah Kencong Rp7.000 yang terdiri dari Rp5.000 tiket masuk  wisata perkebunan dan Rp2.000 parkir sepeda motor. ~cukup kamu tahu saja saya dan teman-teman simaksi tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Hanya meninggalkan salah satu KTP dan mencatat nama anggota kelompok beserta nomor kendaraannya. Jangan iri, ini  hak istimewa penduduk Desa Ngadirenggo. Ukir Negoro Ukir N...

Sarapan di Warung Mbok Yem: Nasi Pecel Tertinggi di Indonesia

Gunung Lawu - Mendengar nama gunung ini kalangan pendaki pasti lamgsung terbesit di pikirannya tentang warung Mbok Yem. Warung yang terletak di gunung, hampir di puncaknya. Mbok Yem tinggal di warungnya itu, tidak seperti penjual yang lain yang buka di hari sabtu-minggu saja. Mbok Yem selalu buka bahkan tempatnya bisa menampung 30 orang kalau-kalau saat malam tiba para pendaki enggan begitu kedinginan di dalam tenda. (Ingat! Tetap membawa perlengkapan lengkap jangan meremehkan bisa di dalam warung Mbok Yem. Karena kita tidak tahu keadaan di atas saat di bawah. Yang jelas sabtu minggu jumlah pendaki meningkat.) Selain puncak dan pemandangan yang menakjubkan. Bagiku Mbok Yem menjadi daya tarik tersendiri. Alih-alih melihat sunrise, pecel Mbok Yem menjadi tujuan karena kelaparan (cerita kelaparan ada di tulisan sebelum ini.  Baca disini ). Nasi Pecel Mbok Yem Tidak aneh-aneh, lha wong namanya pecel. Yang beda jelas suasana dan sensasinya ditambah ekspektasi dan diduk...