Kadang-kadang menulis, kadang-kadang merekam, kadang-kadang jalan-jalan
Search This Blog
Pendakian Gunung Butak via Sirah Kencong Blitar
Puncak Gunung Butak
Gunung Butak berada pada ketinggian 2868 mdpl bisa didaki melalui 4 jalur, yang terkenal Sirah Kencong, Blitar dan Panderman, Malang. Kata kalangan pendaki, kalau ingin pendakian cepat Sirah Kencong lah yang harus dipilih tentu dengan konsekuensi tidak ada "bonus" (di dunia pendakian bonus adalah istilah untuk trek landai). Benar saja, dada terasa terhimpit sejak tanjakan pertama dekat parkiran Agro Wisata Sirah Kencong. Saya tergolong pendaki pemula dan jarang berolahraga, ya tentang kecepatan waktu pendakian tergantung pada setiap orang.
Simaksi
Simaksi pendakian Gunung Butak melalui Sirah Kencong Rp7.000 yang terdiri dari Rp5.000 tiket masuk wisata perkebunan dan Rp2.000 parkir sepeda motor. ~cukup kamu tahu saja saya dan teman-teman simaksi tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Hanya meninggalkan salah satu KTP dan mencatat nama anggota kelompok beserta nomor kendaraannya. Jangan iri, ini hak istimewa penduduk Desa Ngadirenggo.
Ukir Negoro
Ukir Negoro adalah bagian dari kebun teh, areanya luas dan cukup datar. Berkemah disana saja pemandangannya sangat indah. Di sebelah barat ada penampang Gunung Kelud dan gemerlap lampu kota nun jauh di timur kala malam datang.
Pemandangan Ukir Negoro
Pos 1
Ini perjalanan yang cukup jauh, yang paling jauh diantara jarak tiap posnya. Pada pendakian Gunung Butak melalui Sirah Kencong ini bila berharap adanya bonus ya hanya ada diantara Ukir Negoro menuju Pos 1, itu pun tidak panjang. Saya sebagai pejalan pelan membutuhkan waktu 1,5 jam.
Kami memutuskan membuka bekal nasi di sini, nikmatnya mie goreng dan telur dadar tatkala lapar. Makan bersama, di hutan belantra nikmatnya tiada tara, tak ada bandingannya. Setidaknya itu menurut saya.
Pos 2
Jalur yang sangat menanjak langsung disuguhkan setelah beranjak dari Pos 1. Tekstur tanah padat dan pasti licin setelah turun hujan, hati-hati terpeleset. Apalagi saat turun, menurut saya setiap turun gunung setidaknya sekali pasti terpeleset. Jarak menuju Pos 2 setengah jarak Ukir Negoro ke Pos 1, tetapi trek sama sekali tidak ada bonus ~sabar, atur nafas.
Pos 3
Tidak tahu lagi apa perbedaan yang dapat saya ceritakan mengenai jalur ini kecuali tanjakan yang kadang memaksa untuk merangkak, pegangan pada kayu yang ada disebelah jalur sekenanya. Kadang juga memaksa kita untuk memijakkan kaki lebih tinggi untuk melangkahkan kaki. Jarak Pos 2 ke Pos 3 hampir sama dengan pos sebelumnya.
Kami sampai pos tiga sudah sore.
Menuju Pos 4. Indah ya
Pos 4
Sesampai Pos 4 posisi awan semakin dekat terasa sejajar dengan kepala tapi tak terjamah. Kami terpukau dengan keindahan sore hari kala itu. Dahaga, sesak di dada, dan tremornya lulut sirna segera. Swafoto, yang satu minta difotokan yang lain, saya lebih sibuk merekam keindahan langit yang sedang ditampilkan Tuhan sore itu.
Biru Banget ya Langitnya
Pos 5
Semakin gelap. Masih jauh menuju Pos 5 saya berhenti beberapa saat untuk menggunakan jaket dan sarung tangan, pun dengan yang lain. Angin berhembus kencang. Semakin gelap, gelap, dan gelap sorot jingga menghilang dari Barat.
Hampir pukul 10 malam namun Pos 5 tak kunjung kelihatan. Lelah menyerang kami semua, lapar apalagi. Kami mendengar dari beberapa kelompok pendaki lain bahwa Pos 5 sudah penuh kalau mau mendirikan tenda di padang savana masih luas dan nyaman. Sedangkan berkemah di puncak resiko angin kencang.
Mendengar hal itu dan melihat kondisi fisik yang tampak tak lagi mampu~terlebih saya, kami mendirikan tenda sebelum sampai Pos 5. Teman laki-laki meratakan tanah, salah satu dari kami ada yang membawa Parang.
Sarapan Sop di Gunung Butak
Rencana awal kami mengikuti upacara bendera peringatan kemerdekan R1 ke 75 tahun. Bagaimana lagi, bukankah yang utama dalam pendakian adalah bisa kembali pulang dengan selamat. Pagi itu, 17 Agustus sarapan menjadi hal yang kami utamakan. Ketika memasak sayur sop, banyak yang sudah turun termasuk Bhabinkamtibmas Kab.Blitar.
Puncak
Usai sarapan dan piring dibersihkan kami berangkat membawa barang seperlunya saja. Tas dan lain sebagainya ditinggal di dalam tenda. Air minum barang berharga yang haram untuk ditinggalkan.
Bunga Edelweiss di Jalur Menuju Pos 5
Selepas Pos 5 orang-orang menyebut area hutan lumut. Pohon-pohon yang tampak lama hidup didominasi lumut. Bunga abadi, bunga edelweiss tidak lagi malu-malu muncul. Dijalur pendakian tercium bau harumnya, meski terkadang bau pesing yang tiba-tiba menusuk sebab pendaki yang mungkin kebelet tidak sempat mencari tempat untuk mengeluarkan urin di kadung kemih yang meronta. Itu sangat menggagu sih.
Hutan Lumut (foto diambil waktu turun)
Siang sampailah di puncak. Hampir bosan saya menceritakan "sakit"nya menempuh tanjakan. Semua teman berada di depan, bukan saya yang mengayomi karena memang saya yang lamban~ketawa diperseilahkan. Bendera Merah Putih berkibar diterpa angin. Silirnya mengalihkan duniaku, berjalan lebih pelan.
Tujuanku tercapai. Pendakian Gunung Butak wujud syukur hidup dilereng Kawi sudah terwujud. Masih dalam silir angin haru menyerang. Air mataku menggenang di pelupuk. Indonesia Raya melantun di dalam hati. Waktu kembali berjalan normal ketika pandanganku beralih pada teman-teman yang berfoto di puncak.
Gunung Arjuno dari Gunung Butak
Poto Bareng Dong, Kurang 2 Orang Turun Duluan
Nggak Ikut Upacara, Nggak apa-apa
Tips Pendakian di Gunung Buthak melalui Sirah Kencong
Meski bukan gunung yang terkenal tetapi jalurnya tidak main-main, maka jangan pernah menyepelekan persiapan perlengkapan mendaki gunung.
Air harta karun ketika mendaki, jangan membawa sekedarnya saja. Setidaknya satu orang dua botol 1500ml.
Pastikan selalu bersama dengan kelompok, jangan tertinggal dan meninggalkan.
Boleh menjadikan puncak atau sunrise sebagai tujuan tetapi tetap perhatikan kondisi diri.
Sopan, tidak mengucap hal-hal yang tidak pantas karena kita datang sebagai tamu.
Setelah turun jangan buru-buru pulang, Ken Tea anget diWarung Bu Tia dan juga nasi pecel sayang apabila terlewatkan.
Pendakian Gunung Butak via Sirah Kencong Blitar dalam Bentuk Video, Jangan Lupa Subscribe gees
Di Gunung Butak yang saya tau tidak ada peraturan tertulis. Tetapi tetap ikuti anjuran pemerintah saja. Seperti membawa handsanitizer untuk pengganti cuci tangan dengan sabun, pakai masker (kalau engap, ya disesuaikan lah ya), dan yang paling penting jaga jarak gan.
Ini adalah tulisan yang sangat terlambat kalau teman-teman di instagram sering sebut latepost. Tapi enggak deng, tidak ada kata terlambat untuk menulis dan ditulis. Pernah lihat film 5 CM? Tampaknya aku korban film itu. Tapi tak serta merta setelah nonton film lalu berangkat ke sana. Film itu tahun 2012 sedangkan aku baru berkesempatan ke Ranu Kumbolo tahun 2015. Cukup lama untuk penanggulangan korban. Ini Candu Tidak punya teman yang suka mendaki, ada sebenarnya tapi tidak ada keinginan untuk mengajak aku. Karena memang bukan teman dekat. Aku hanya berbicara dengan diri sendiri,"Kapan bisa ke Puncak Mahameru ya?!" dalam hati. Akhirnya sekitar bulan Juli aku lupa tanggalnya ada barengan dari satu wilayah. Kenalan dari facebook yang ternyata bekerja di BPBD Blitar, yang kantornya 7 km-an dari rumahku. Masih sekecamatan, kecamatan Wlingi. Namanya Eko, tapi orang dan dia sering memperkenalkan diri sebagai Balor. Aku juga tidak paham apa artinya. Ternyata dia juga ng...
Mau jadi apa? Sebuah kalimat tanya pendek yang sering saya ulang-ulang untuk menanyai diri saya sendiri. Mau jadi ini. Mau jadi itu. Banyak mau tapi enggak ada usaha jadi tidak maju-maju, tidak jadi ini juga tidak jadi itu. Era ini semua serba konten. Dari yang bermanfaat hingga untuk hiburan semata. Apalagi di saat pandemi seperti ini, banyak orang yang di rumah saja entah terpaksa atau tidak membuat konten untuk menghilangkan stres. Apapun bisa jadi konten. Smartfren WOWLabs Generasi Konten Saya sendiri ngonten melalui blog ini yang beberapa artikelnya memiliki konten video yang saya unggah di Youtube. Bersinergi antara konten youtube saya dengan blog ini adalah sebuah cara saya dalam membagikan apa pun, yang semoga bisa bermanfaat untuk penonton dan pembaca. Pergerakan saya tampak lambat karena memang satu dan lain hal di dunia nyata atau itu hanya alibi saya atas kemalasan menulis. Tetapi, apa pun itu saya yakin apa yang saya tulis di dalam blog ini juga melalui video di channel yo...
View Pos 4 Gunung Lawu - Walaupun bukan pendaki berpengalaman setiap orang yang mendaki gunung disebut pendaki dong ya? Ya meski hanya tiga kali setidaknya sudah ku takhlukkan Puncak Mahameru . Sudah hampir setahun tidak mendaki dengan alasan menjawab pertanyaan, "Sebelum bulan puasa mau kemana?" Yang sebenarnya bisa dijawab dengan singkat," Di rumah saja." Singkat cerita dipilihlah Gunung Lawu dan dengan penuh drama akhirnya jalur Cemoro Sewu yang akan ditempuh bersama.Karena salah satu teman tidak punya banyak hari libur, menurut informasi yang bertebaran di internet jalur Cemoro Sewu-lah yang paling cepat tapi dengan konsekuensi tidak ada bonus, jalan nanjak terus. Di mulai tanggal 25 April pagi berangkat dari terminal Blitar menuju Nganjuk naik bus Kawan Kita, ada bapak-bapak kecopetan, kasihan mau ke Kediri minta uang tambahan ke anaknya untuk memperbaiki motor dompetnya malah raib. Dari Nganjuk niat awal turun Maospati tapi karena sudah malam akhi...
Mau tanya untuk pendakian gunung buthak Peraturannya di new normal seperti ini apa aja ya? Seperti maksimal berapa orang,
ReplyDeleteDi Gunung Butak yang saya tau tidak ada peraturan tertulis. Tetapi tetap ikuti anjuran pemerintah saja. Seperti membawa handsanitizer untuk pengganti cuci tangan dengan sabun, pakai masker (kalau engap, ya disesuaikan lah ya), dan yang paling penting jaga jarak gan.
Deleteinfo tambahan, kalau via Panderman pakai surat keterangan sehat ya.
DeleteKalau mendaki ke butak via sirah kencong itu lewat sabana atau langsung puncak?
ReplyDeleteLangsung puncak. Sabana tepat setelah puncak kalau via Sirah Kencong
Delete