Skip to main content

Malam minggu Badai di Ukir Negoro, Sirah Kencong

Ukir Negoro Perkebunan Sirah Kencong
Ukir Negoro Perkebunan Sirah Kencong. Koleksi Pribadi A.WIdayanti

Ukir Negoro adalah nama tempat yang tidak asing di kalangan pemetik teh di perkebunan teh Sirah Kencong. Para pendaki gunung yang sudah ke Gunung Butak via Sirah Kencong juga pasti tau tempat ini.

Tidak jauh dari rumahku, karena hanya beda dusun saja. Kata emakku dahulu Berak Papat adalah salah satu pos untuk menimbang pucuk teh yang sudah didapat oleh pemetik, tidak tahu kalau sekarang. Terletak di dusun Sirah Kencong, desa Ngadirenggo membuat bangga rasanya jadi bagian dari wilayah yang kini semakin ramai didatangi wisatawan.

Sudah direncanakan minggu sebelum berangkat, saat harinya tiba cuaca mendadak berubah. Pagi yang cerah untuk jiwa yang sepi, eh bukan siang mulai mendung. Aku dan teman-teman sepakat tetap bersiap, jika hujan ya gak jadi berangkat.

Akhirnya tetap berangkat sementara cuaca mendung, berempat ciwi ciwi di emong mas Heri. Sedangkan Rio dan Dodik menyusul, masih menunggu Bagus pulang kerja dari Malang, kemungkinan malam.

Belum ada separuh perjalanan hujan turun, semakin ke utara semakin deras. Kesalahan besar, aku tidak membawa baju ganti sementara jas hujan tak segera aku pakai. Bodohnya lagi aku berhenti memakai mantel atas saja celananya enggak, berharap hujan hanya menggertak saja. Nyatanya sampai pos satpam perkebunan Sirah Kencong hujan tetap mengiringi. Celana basah luar dalam. 

Tiket Masuk Camping di Ukir Negoro

Karena tiket camping tidak ada, hanya membayar masuk wisata Perkebunan Sirah Kencong saja. Setelah membayar Rp5000 dan ijin di pos satpam dalam gerimis kami memulai perjalanan belum genap separuh langit sudah gelap. Berjalan kaki dengan bantuan lentera ponsel bersama menuju Ukir Negoro. Di jalan ketemu pak Eko, pengelola pembangunan wisata area Ukir Negoro. Pak Eko mengatakan di sana ada solar untuk membuat perapian. Dalam hati aku menyambut gembira berencana sampai sana mengeringkan celana.

Lokasi Camping Ukir Negoro

Sampai lokasi angin kencang, tak ada orang lain selain kami. Deg-degan seru takut campur aduk. Ingin ku teriaakk... Seolah lagu DePe jadi backsong. Celana basah luar dalam Alhamdulillah dapat barter dengan mas Heri. Celananya ku pinjam, dia pakai jaketku.

Satu tenda sudah berdiri, angin masih kencang. Kopi sudah dibuat untuk menghangatkan badan. Solar yang dimaksud pak Eko tak kunjung ketemu, ada kios tapi terkunci. Hah inginku teriaakk.. Lagi lagi lagu itu.

Mas Heri mencari tempat untuk mendirikan tenda yang satunya untuk ciwi-ciwi, sendirian di cuaca yang masih gerimis, angin sudah berkurang. Sungguh bapak sekaligus ibu pengganti tatkala sedang camping begini. Apalagi teman laki-laki yang lain belum menyusul. Sangat kelihatan sekali. 

Saat aku keluar dari tenda yang pertama ada satu tenda lain yang sudah berdiri, akhirnya punya teman juga. Bersama-sama kami memindah barang-barang di tenda yang baru selesai didirikan. Saat mas Heri memindah tenda untuk di dekatkan dengan yang lain, tiba-tiba frame patah. Sedikit panik, tapi tetangga baru ikut membantu Alhamdulillah teratasi.

Semakin malam, kulihat ke arah timur,indah sekali pemandangannya. Gemerlip lampu seluas mata memandang. Pernah ke paralayang Batu? Mirip lah. Tapi suasana lebih syahdu di Ukir Negoro,lebih private. Mas Heri memasak sendiri, ciwi-ciwi main UNO dan yang ditunggu belum juga muncul. Sampai keluar dari mulutku," Kalau Dodik gak jadi menyusul, tak satru."

Masakan chef Heri siap di santap, akhirnya ber-empat kami makan malam bersama, menikmati gerimis mengiris sisa malam menuju dini hari. Mengobrol dan lanjut main UNO lagi, sekitar pukul 23.00 WIB terdengar suara trio kwok-kwok (karena cowok jadi "e" diganti "o", hehe). "Hahaha", aku tertawa menertawai ucapanku," Dodik gak jadi tak satru."

Mereka bercerita sedikit tentang-tentang perjalanan menyusul lalu makan. Mau tidur tak enak, Basah dimana-mana. Beberapa dari kami tidur dan banyak yang main UNO sampai sepertiga malam hampir habis. Tapi nyatanya kantuk tetap menyerang tak dapat dihindari, kami semua memutuskan untuk tidur.

Pagi mengintip, tiada sunrise tapi hujan sudah reda. Ada yang nggodok air untuk kopi ada yang masih tidur tapi aku menikmati pagi dengan muka bantal yang tak berbantal. Memandang arah timur, arah gemerlip lampu rumah jalanan semalam. Satu dua foto ku ambil namun hasil tak seindah dan senikmat mata memandang.

Ku cuci celanaku yang basah dengan air hujan dalam tong yang ada di sana, ku jereng agar pinjaman celana ku kembalikan tanpa mencuci haha. Walau tidak ada sunrise aku tetap menikmati suasana, mula bermalas-malasan duduk-duduk saja akhirnya kita semua berfotor ria. Setelah sarapan kami bersiap untuk pulang.

Tips Camping di Ukir Negoro

Hindari perjalanan malam apa lagi saat hujan. Jangan lupa obat-obatan kalau-kalau masuk angin karena cuaca yang wadaw. Baiknya berangkat siang menuju sore karena tida panas dan keburu untuk melihat sunset dengan siluet Gunung Kelud. Jauh atau dekat pokoknya yang disebut camping selalu bawa baju ganti,itu wajib. Jangan sembarangan ikut barengan karena bagaimanapun suasana juga keseruan tergantung waktu dan teman perjalananmu. Selamat berlibur. ^_^

Comments

Popular posts from this blog

Bermalam Minggu di Ranu Kumbolo

Ini adalah tulisan yang sangat terlambat kalau teman-teman di instagram sering sebut latepost. Tapi enggak deng, tidak ada kata terlambat untuk menulis dan ditulis. Pernah lihat film 5 CM? Tampaknya aku korban film itu. Tapi tak serta merta setelah nonton film lalu berangkat ke sana. Film itu tahun 2012 sedangkan aku baru berkesempatan ke Ranu Kumbolo tahun 2015. Cukup lama untuk penanggulangan korban. Ini Candu Tidak punya teman yang suka mendaki, ada sebenarnya tapi tidak ada keinginan untuk mengajak aku. Karena memang bukan teman dekat. Aku hanya berbicara dengan diri sendiri,"Kapan bisa ke Puncak Mahameru ya?!" dalam hati. Akhirnya sekitar bulan Juli aku lupa tanggalnya ada barengan dari satu wilayah. Kenalan dari facebook yang ternyata bekerja di BPBD Blitar, yang kantornya 7 km-an dari rumahku. Masih sekecamatan, kecamatan Wlingi. Namanya Eko, tapi orang dan dia sering memperkenalkan diri sebagai Balor. Aku juga tidak paham apa artinya. Ternyata dia juga ng...

Mau Jadi Apa? Siapkan Diri Raih Peluang Kokreasi bersama Smartfren WOWLabs

Mau jadi apa? Sebuah kalimat tanya pendek yang sering saya ulang-ulang untuk menanyai diri saya sendiri. Mau jadi ini. Mau jadi itu. Banyak mau tapi enggak ada usaha jadi tidak maju-maju, tidak jadi ini juga tidak jadi itu. Era ini semua serba konten. Dari yang bermanfaat hingga untuk hiburan semata. Apalagi di saat pandemi seperti ini, banyak orang yang di rumah saja entah terpaksa atau tidak membuat konten untuk menghilangkan stres. Apapun bisa jadi konten. Smartfren WOWLabs Generasi Konten Saya sendiri ngonten melalui blog ini yang beberapa artikelnya memiliki konten video yang saya unggah di Youtube. Bersinergi antara konten youtube saya dengan blog ini adalah sebuah cara saya dalam membagikan apa pun, yang semoga bisa bermanfaat untuk penonton dan pembaca. Pergerakan saya tampak lambat karena memang satu dan lain hal di dunia nyata atau itu hanya alibi saya atas kemalasan menulis. Tetapi, apa pun itu saya yakin apa yang saya tulis di dalam blog ini juga melalui video di channel yo...

Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu: Rasanya Kaki Mau Patah

View Pos 4 Gunung Lawu - Walaupun bukan pendaki berpengalaman setiap orang yang mendaki gunung disebut pendaki dong ya? Ya meski hanya tiga kali setidaknya sudah ku takhlukkan Puncak Mahameru . Sudah hampir setahun tidak mendaki dengan alasan menjawab pertanyaan, "Sebelum bulan puasa mau kemana?" Yang sebenarnya bisa dijawab dengan singkat," Di rumah saja." Singkat cerita dipilihlah Gunung Lawu dan dengan penuh drama akhirnya jalur Cemoro Sewu yang akan ditempuh bersama.Karena salah satu teman tidak punya banyak hari libur, menurut informasi yang bertebaran di internet jalur Cemoro Sewu-lah yang paling cepat tapi dengan konsekuensi tidak ada bonus, jalan nanjak terus. Di mulai tanggal 25 April pagi berangkat dari terminal Blitar menuju Nganjuk naik bus Kawan Kita, ada bapak-bapak kecopetan, kasihan mau ke Kediri minta uang tambahan ke anaknya untuk memperbaiki motor dompetnya malah raib. Dari Nganjuk niat awal turun Maospati tapi karena sudah malam akhi...