Skip to main content

Pendakian Gunung Semeru: Perjalanan Menuju Ranukumbolo

Usai briefing, sebelum memulai pendakian kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Awalnya mau makan bakso tapi berubah pikiran dan memilih makan nasi dengan sayur selera masing-masing. Saat itu aku memesan nasi rawon minumnya teh anget di warung yang aku lupa namanya.
Matahari mulai meninggi di Ranukumbolo (diambil ketika keesokan harianya setelah perjalanan di tulisan ini)
Selesai, berangkat di sore yang tanggung. Dalam hati ingin ku berfoto di gerbang pendakian tapi apa daya sedang perbaikan. Kondisi jalan basah tidak becek. Karena sudah masuk musim hujan hanya dalam hatiku terus berdoa semoga tidak turun hujan sampai pulang.
Gerbang di copot, ada pembangunan gerbang baru (In frame mas Heri, mau kenalan boleh hubungi via contact :D )
Setelah gerbang beberapa puluh meter jalan agak menanjak. Walaupun aku pakai ransel daypack tapi apel yang dibeli langsung dari kebun saat perjalanan menuju ranu pani aku bawa. Dodik melihat aku keberatan dan mencoba menenteng tasku berat. Lalu apel di bagi dua dan di bawa yang lain.
Fisik memang tidak bisa menipu, baiknya sebelum pendakian baiknya melakukan latihan fisik seminggu sebelumnya. Tapi lebih baik lagi olahrsga teratur setiap hari. Sedangkan aku tak pernah, hanya pagi hari sebelum berangkat ke Malang ikut senam CFD dan ditambah lari keliling Taman Idaman Hati Wlingi beberapa putaran.

Sampai pos satu waktu sudah petang. Apel dan permen karet sangat membantu untuk menjaga tenggorokan tidak mudah kering dan dahaga dan menghemat air minum. Tak perlu khawatir soal persediaan selagi tidak menggampangkannya. Selain mudah dan dekat sumber airnya, di setiap pos ada penjualnya tetapi tidak 24 jam. Apalagi perjalanan malam, enaknya tidak begitu merasa lelah. Sedihnya tak bisa menikmati pemandangan sekitar, gelap dan sunyi.
Selfie menuggu Silvi di Pos 1
Cukup lama berada di pos satu, menunggu Juna dan Silvi. Ternyata Silvi mengalami cidera, sendi lututnya kambuh. Katanya dulu pernah jatuh dari motor dan persendiannya jadi tidak sehat. Perjalanan menjuju pos dua masih terpencar tiga grup. Catur, Dwi, Luki,mas Heri dahuluan, sementara aku Rio dan Dodik di belakangnnya. Terakhir Juna menemani Silvi yang tertatih.

Langit makin gelap seolah dan sepertinya memang hanya kami yang masih melakukan perjalanan menuju Ranukumbolo waktu itu. Menuju pos tiga kami sudah berjalan bersama-sama karena sudah sangat gelap hanya senter yang kami bawa untuk penerangan. Dan juga untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan kami tetap bersama-sama.

Melihat kondisi Silvi yang semakin tertatih semua berkeinginan untuk membawakan tasnya juga biar tak semakin larut sampai di Ranukumbolo. Tapi teman-teman tak sampai keluar ke bibir tidak enak sama Juna. Akhirnya aku yang memecah suasana, kutawarkan untuk tukar tas karena tas daypack yang aku bawa hanya berisi dua baju, peralatan makan dan sleeping bag. Eh, ada lagi deng, barang pribadi juga apel yang sudah mulai berkurang.

Dari pos tiga, di jalan yang paling menanjak selama perjalanan menuju Ranukumbolo aku membawa tas Silvi. Untung saja tak jauh tanjakan itu. Dari sini kami berpencar lagi. Aku, Dwi dan Rio duluan yang lain di belakang.

Setelah tanjakan itu Dwi bertanya berat atau tidak tas yang aku bawa. Beberapa aku menolak tawarannya untuk membawakannya. Dan dalam perjalanan dari pos 3 ini aku tau kalau teman-teman juga ingin membawakan tas Silvi.

Karena langkah Dwi yang cepat aku terengah-engah mengikutinya. Kami bertiga hanya satu senter, yang lain dihemat untuk ke puncak. Mau tidak mau harus bersama. Aku minta berhenti sejenak, dan Dwi dengan alasan ingun menenteng seberapa beratnya tas yang aku bawa tiba-tiba saja langsung membawanya di bagian depan dan berjalan. Cukup lama dalam aku berjalan tidak membawa tas, tak lama kita bertemu dengan beberpa rombongan lain yang satu arah.

Cukup jauh jarak kami dengan teman-teman, akhirnya aku, Dwi dan Rio sampai tetapi yang bagian utara danau. Kami berhenti dan memakan roti bolu, bekal dari budhe. Ya cukup nyereti tapi lumayanlah untuk kegiatan menunggu.
Sampai di Ranukumbolo di sebelah utara
Beberapa menit yang dinanti muncul, perjalanan sedikit lagi. Kantuk sudah menyerangku. Sekitar pukul 22.00 WIB kami sampai. Uang Silvi hilang 50rb aku jadi gak enak. Karena tasnya aku yang bawa. Teman-teman bersama mendirikan tiga tenda, aku dengan minimnya pengetahuan dan sudah cukup yang membantu duduk saja menanti tenda siap untuk dihuni.

Gak tau mereka makan dulu sebelum tidur atau tidak, aku tak peduli. Aku ngantuk dan aku mau tidur. Silvi ikutan tidur, seharusnya dia makan dulu karena kondisinya yang kurang baik. Dan benar saha, tengah malam dia membangunkanku meminta tolong Juna untuk membuatkan susu hangat. Dia kedinginan. Aku keluar tenda, sangat dingin dan tubuhku terasa melayang, kepala pening.

Tiba-tiba aku lupa nama Juna dan yang aku panggil mas Heri, namun ia tak menjawab entah terlelap atau mengira yang memanggil bukan manusia jadi harus didiamkan. Ku ingat dan langsung ku sebut nama Juna sekaligus permintaan Silvi.

Juna masak air dan aku kembali ke tenda. Silvi menggigil ku suruh dia menggosok kedua telapak tangannya tapi dia tidak melaksanakan mungkin tubuhnya terasa kaku. Aku gosokan tanganku dengan tangannya, hanya itu yang aku tahu. Sungguh saat itu aku menyesalkan mengapa aku tak pernah selesai ikut ekstra PMR waktu di sekolah, tak berangkat ke polres saat ada penyuluhan pertolongan pertama.

Juna datang dengan membawa segelas susu putih, Silvi pun minum. Kata Juna, Silvi terkena gejala hipotermia. Setelah beberapa menit berlalu Silvi akhirnya bisa tidur lagi. Hingga matahari terbit ku pikir semua baik baik saja. Bersama-sama bercengkrama, bercabda senda gurau, berfoto ria, Silvi pun juga berfoto ria.
Berfoto untuk stok profil dan bahan cerita anak cucu kelak :D
Ranukumbolo selalu mengagumkan disetiap sisinya dan meski tujuan sana tapi setiap perjalanan memiliki cerita yang berbeda. Sampai ketemu di tulisan menuju Kalimati.

Comments

Popular posts from this blog

Mau Jadi Apa? Siapkan Diri Raih Peluang Kokreasi bersama Smartfren WOWLabs

Mau jadi apa? Sebuah kalimat tanya pendek yang sering saya ulang-ulang untuk menanyai diri saya sendiri. Mau jadi ini. Mau jadi itu. Banyak mau tapi enggak ada usaha jadi tidak maju-maju, tidak jadi ini juga tidak jadi itu. Era ini semua serba konten. Dari yang bermanfaat hingga untuk hiburan semata. Apalagi di saat pandemi seperti ini, banyak orang yang di rumah saja entah terpaksa atau tidak membuat konten untuk menghilangkan stres. Apapun bisa jadi konten. Smartfren WOWLabs Generasi Konten Saya sendiri ngonten melalui blog ini yang beberapa artikelnya memiliki konten video yang saya unggah di Youtube. Bersinergi antara konten youtube saya dengan blog ini adalah sebuah cara saya dalam membagikan apa pun, yang semoga bisa bermanfaat untuk penonton dan pembaca. Pergerakan saya tampak lambat karena memang satu dan lain hal di dunia nyata atau itu hanya alibi saya atas kemalasan menulis. Tetapi, apa pun itu saya yakin apa yang saya tulis di dalam blog ini juga melalui video di channel yo...

Pendakian Gunung Butak via Sirah Kencong Blitar

Puncak Gunung Butak Gunung Butak berada pada ketinggian 2868 mdpl bisa didaki melalui 4 jalur, yang terkenal Sirah Kencong, Blitar dan Panderman, Malang. Kata kalangan pendaki, kalau ingin pendakian cepat Sirah Kencong lah yang harus dipilih tentu dengan konsekuensi tidak ada "bonus" (di dunia pendakian bonus adalah istilah untuk trek landai). Benar saja, dada terasa terhimpit sejak tanjakan pertama dekat parkiran Agro Wisata Sirah Kencong . Saya tergolong pendaki pemula dan jarang berolahraga, ya tentang kecepatan waktu pendakian tergantung pada setiap orang.  Simaksi Simaksi pendakian Gunung Butak melalui Sirah Kencong Rp7.000 yang terdiri dari Rp5.000 tiket masuk  wisata perkebunan dan Rp2.000 parkir sepeda motor. ~cukup kamu tahu saja saya dan teman-teman simaksi tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Hanya meninggalkan salah satu KTP dan mencatat nama anggota kelompok beserta nomor kendaraannya. Jangan iri, ini  hak istimewa penduduk Desa Ngadirenggo. Ukir Negoro Ukir N...

Sarapan di Warung Mbok Yem: Nasi Pecel Tertinggi di Indonesia

Gunung Lawu - Mendengar nama gunung ini kalangan pendaki pasti lamgsung terbesit di pikirannya tentang warung Mbok Yem. Warung yang terletak di gunung, hampir di puncaknya. Mbok Yem tinggal di warungnya itu, tidak seperti penjual yang lain yang buka di hari sabtu-minggu saja. Mbok Yem selalu buka bahkan tempatnya bisa menampung 30 orang kalau-kalau saat malam tiba para pendaki enggan begitu kedinginan di dalam tenda. (Ingat! Tetap membawa perlengkapan lengkap jangan meremehkan bisa di dalam warung Mbok Yem. Karena kita tidak tahu keadaan di atas saat di bawah. Yang jelas sabtu minggu jumlah pendaki meningkat.) Selain puncak dan pemandangan yang menakjubkan. Bagiku Mbok Yem menjadi daya tarik tersendiri. Alih-alih melihat sunrise, pecel Mbok Yem menjadi tujuan karena kelaparan (cerita kelaparan ada di tulisan sebelum ini.  Baca disini ). Nasi Pecel Mbok Yem Tidak aneh-aneh, lha wong namanya pecel. Yang beda jelas suasana dan sensasinya ditambah ekspektasi dan diduk...